Senin, 27 Maret 2017

MAKALAH ETIKA SOSIAL










                            MAKALAH

                          ETIKA SOSIAL


Untuk Memenuhi Tugas

Etika Profesi



Oleh Kelompok   1

Hendy Augustama                  (201531032)

Haikal Aufar                           (201531041)

Eka Nurul Ishla Aslihi            (201531085)

Dewi Sri Rezeki                      (201531199)





JURUSAN S1 TEKNIK INFORMATIKA

SEKOLAH TINGGI TEKNIK-PLN

JAKARTA

2017






Kata Pengantar
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah “Etika Sosial untuk memenuhi tugas mata kuliah Etika Profesi”.
             Makalah “Etika Sosial ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
              Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.
            Akhir kata kami berharap semoga makalah etika sosial ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.
   


        
                                                                                                                             Jakarta, Maret 2017
   
                                                                                                                                      Penyusun




 BAB I
PENDAHULUAN

1.1.     Latar Belakang
Di zaman modern ini, masalah etika di Indonesia mulai mengalami penurunan. Sebagian besar masyarakat mulai mengabaikan persoalan erikanya. Terutama etika dalam pergaulan. Hal ini terjadi di akibatkan masuknya ajaran-ajaran barat yang akhirnya mengikis ada budaya masyarakat Indonesia secara perlahan-perlahan.
Etika adalah sebuah refleksi kritis dan rasional mengenai nilai dan norma moral yang menentukan dan terwujud. Nilai yang terkandung dalam ajaran berbentuk petuah-petuah, nasihat, wejangan peraturan, perintah dan semacamnya. Pada dasarnya memberi kita orientasi bagaimana dan kemana kita harus melangkah dalam hidup ini.
Etika memiliki keterkaitan dengan pergaulan sosial, sebagaimana yang diketahui apabila seseorang bergaul tanpa ada etika yang mengaturnya tentu pergaulan tersebut akan rusak. Sebagai contoh yakni pergaulan dalam remaja. Remaja merupakan generasi penerus yang akan datang yakni penerus yang akan membangun  bangsa ke arah yang lebih baik yang mempunyai pemikiran jauh ke depan dan dapat menciptakan kegiatan yang dapat menguntungkan dirinya sendiri,keluarga, dan lingkungan sekitar, oleh karena itu remaja tersebut perlu mendapatkan perhatian dari orang tua dan masyarakat sekitar. Banyak kita dengar sekarang di media massa maupun media elektronik ada remaja yang berprestasi dan ada remaja yang melakukan tindakan-tindakan  atau perbuatan diluar kesadarannya yang merugikan dirinya dan orang lain seperti pergaulan bebas, remaja yang menggunakan narkoba dan kurang sopan dalam berbicara.
Hal di atas terjadi karena kurangnya etika dalam kehidupan sehingga menyebabkan terjadinya perilaku-perilaku yang menyimpang. Namun sebaliknya apabila etika ditanamkan dalam kehidupan maka akan dalam hal ini kami mengambil judul “Etika Dan Pergaulan Sosial”  guna dengan risalah ini sedikit atau banyaknya agar memahami bagaimana etika yang baik dalam pergaulan, dan sebaliknya dan bagaimana etika yang buruk dalam pergaulan.


1.2.     Rumusan Masalah
  1. Apa yang dimaksutd dengan etika?
  2. Apa sajakah pembagian etika?
  3. Bagaimanakah sistematika etika?
  4. Apakah pendapat dan aliran dalam etika?
  5. Apa sajakah etika dalam pergaulan sosial?

1.3.     Tujuan Pembelajaran
1.      Mahasiswa dapat mengetahui tentang etika
2.      Mahasiswa dapat membagi beberapa macam etika
3.      Mahasiswa dapat mengetahui sistematika etika
4.      Mahasiswa dapat mengajukkan pendapat dan aliran dalam etika
5.      Mahasiswa dapat menerapkan etika dalam pergaulan sosial


BAB II
PEMBAHASAN

2.1.                  Pengertian Etika
Pengertian Etika (Etimologi), berasal dari bahasa Yunani adalah "Ethos", yang berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Etika biasanya berkaitan erat dengan perkataan moral yang merupakan istilah dari bahasa Latin, yaitu "Mos" dan dalam bentuk jamaknya "Mores", yang berarti juga adat kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik (kesusilaan), dan menghindari hal-hal tindakan yang buruk.
Etika adalah sebuah refleksi kritis dan moral yang menentukan dan terwujud dalam sikp dan dola perilaku hidup manusia, baik secara pribadi maupun kelompok. Menurut Magnis Suseno, etika adalah sebuah ilmu dan bukan suatu ajaran.
Moralitas adalah sistem nilai tentang bagaimana kita harus hidup secara baik sebagai manusia. Sistem nilai ini terkandung dalam ajaran berbentuk petuah-petuah, nasihat, wejangan peraturan, perintah dan  semacamnya yang bersifat turun temurun. Jadi moralitas adalah petunjuk konkrit yang siap pakai tentang bagaimana kita harus hidup sedangkan etika adalah perwujudan secara kritis dan rasional ajaran moral yang siap pakai itu.
Pada dasarnya keduanya memberi kita orientasi bagaimana dan kemana kita harus melangkah dalam hidup ini. Tetapi bedanya moralitas langsung mengatakan “inilah caranya harus melangkah”, Sedangkan  etika justru mempersoalkan “apakah harus melangkah dengan cara ini dan mengapa harus dengan cara ini”

2.2.    Pembagian Etika
Dalam kaitannya dengan nilai dan norma, kita menemukan 2 macam etika:
·         Etika deskriptif, berbicara mengenai fakta apa adanya, yakni mengenai nilai dan pola prilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait dengan situasi dan realitas konkrit yang membudaya
·         Etika normatif, berbicara mengenai norma-norma yang menentukan tingkah laku manusia, serta memberi penilaian dan himbauan kepada manusia untuk bertindak sebagaimana seharusnya berdasarkan norma-norma.
Perbedaannya adalah etika deskriptif memberi fakta sebagai dasar untuk mengambil keputusan tentang perilaku dan sikap yang   mau diambil sedangkan etika normatif memberi penilaian sekaligus memberi norma sebagai dasar dan kerangka tindakan yang diputuskan.
Secara umum norma dapat dibedakan menjadi 2 yaitu:
·         Norma khusus, contohnya bermain bola
·         Norma umum, terdiri dari:
ü  Norma sopan santun, contohnya cara bertemu, makan, duduk dan sebagainya
ü  Norma hukum, lebih tegas dan pasti karena dijamin oleh hukum terhadap para penggarnya
ü  Norma moral, yakni aturan mengenai sikap dan perilaku manusia sebagai manusia. Penilaiannya bukan berdasarkan profesi tetapi manusia yang menjalankan profesi tertentu.

2.3.      Sistematika Etika
       Etika secara umum dapat dibagi menjadi 2 kategori:
·         Etika umum, berbicara mengenai kondisi-kondisi dasar bagaimana manusia bertindak secara etis, mengambil keputusan secara etis serta tolak ukur dalam menilai baik buruknya suatu tindakan.
·         Etika khusus, merupakan penerapan prinsip-prinsip moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus. Penerapan seperti “bagaiman saya mengambil keputusan dan bertindak dalam bidang kehidupan dan kegiatan khusus yang lakukan yang didasari olah cara, teori dan prinsip moral dasar”
ü  Etika individual, menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap dirinya sendiri
ü  Etika sosial, berbicara mengenai kewajiban, sikap dan pola perilaku manusia sebagai anggota manusia  

2.4.      Pendapat dan Aliran dalam Etika
2.4.1.      Etika Deontology
Deontolgi berarti kewajiban (duty) maksudnya bahwa manusia ditekankan untuk berbuat baik. Menurut etika ini suatu tindakan dikatakan baik bukan nilai berdasarkan akibat atau tujuan baik dari tindakan itu, melainkan berdasarkan tindakan itu sendiri sebagai baik pada dirinya sendiri.
Menurut Immanuel Kant (1764 – 1804), kemauan baik harus dinilai baik pada dirinya sendiri terlepas dari apa pun juga. Dalam menilai seluruh tindakan kita, kemauan baik harus selalu dinilai paling pertama dan menjadi kondisi dari segalanya.
Ada 2 pokok yang ditekankan oleh Kant:
·         Tidak ada di dunia ini yang dianggap baik tanpa kualifikasi kecuali kemauan baik.
·         Tindakan yang baik adalah tindakan yang dijalankan demi kewajiban.
2.4.2.      Etika Teleologis
Teori ini mengukur baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan yang mau dicapai atau berdasarkan akibat yang ditimbulkan oleh tindakan tersebut.
            Ada 2 aliran etika teleologis
·         Egoism
Menurut aliran yang dapat dinilai baik itu adalah sesuatu yang memberi mandaat bagi kepentingan diri, kepada vakunya. Sebab itu orang seperti ini disebut egoisme 
·         Utilitarianisme
Paham ini menilai baik dan tidaknya, susila atau tidak susilanya sesuatu, ditinjau dari segi kegunaan atau faedah yang didatangkannya.
Dikenalkan ada 2 jenis yaitu:
ü  Utilisme Individual
Paham ini menganggap seseorang boleh bersikap sesuai dengan situasi yang menguntungkan dirinya. Jadi boleh berpura-pura hormat, bersikap menjilat asalkan perbuatan membwa keuntungan bagi individu 
ü  Utilisme Sosial
Paham ini beranggapan demi  untuk kepentingan orang banyak tidak ada berdusta, tidak apa bermulut manis. Dipakai dalam kelangkaan politis atau diplomatik

Egoism menilai baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan dan akibat dari tindakan bagi diri sendiri, sedangkan utilisme menilai baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan dan akibat dari tindakan bagi banyak orang.

2.4.3.      Universitas
Berarti umum. Universalisme sebagai ajaran etika berarti sesuatu dapat dinilai baik bila dapat memberikan kebaikan kepada orang banyak. Universalisem berarti memikirkan kepentingan umum dimana kepentingan individu tidak terpadat di dalamnya.

2.4.4.      Intuitionisme
Berasal dari kata intuition: ilham, bisikan kalbu. Paham ini berpendapat bahwa baik buruknya atau susah tidaknya dapat merupakan suatu pertimbangan rasa yang timbul dari bisikan kalbu. Bukan merupakan pemikiran secara analisis tapi dengan jalan perenungan dan semadi.
Menurut psikologi dan sosiologi, ada 2 sumber kekuatan yang mempengaruhi perbuatan dan kelakuan seseorang:
·         Ekstern  : pengaruh pergaulan, ajaran/pendidikan, kebudayaan
·         Intern  : pengaruh cara berpikir, karsa/kemauan, insting, dan kejiwaan.
     
2.4.5.      Hedonism
Berasal dari kiat hedone : pleasure : kesenangan. Prinsipnya bahwa sesuatu dianggap baik sesuai dengan kesenangan yang didatangkan. Jadi semua yang mendatangkan kesusahan dianggap tidak baik.
Pengatnut ajaran ini biasanya boros dan memburu kesenangan tanpa melihat halal-haramnya   

2.4.6.      Eudemonisme
Berasal dari kata eudaemonisme : happy : bahagia, dengan menitik beratkan pada rasa.
            Prinsip ajaran menilai baik buruk sesuatu berdasarkan ada tidaknya kebahagiaan yang didatangkan. Walau menempuh jalan yang susah tapi didapatkan perasaan bahagia maka cara ini dianggap baik oleh aliran ini.

2.4.7.      Altruisem
Berasal dari kata alteri : others : prinsipnya mengutamakan kepentingan orang sebagai lawan kepentingan diri sendiri.

2.4.8.      Tradisional
Berasal dari kata tradisional : kebiasaan, adat-istiadat. Menurut paham ini susah tidaknya dinilai dari sebagai kebiasaan atau adat istiadat  yang berlaku. Apa yang memperkukuh tradisi dianggap baik dan yang menentang dianggap tidak baik.

2.5.                      Etika Pergaulan Sosial
Etika pergaulan sosial adalah sesuatu yang diperlukan dalam kehidupan karena bagaimana bisa seseorang hidup tanpa melakukan interaksi yakni melakukan pergaulan dengan orang di sekelilingnya. Sebab, pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang yang selalu berhubungan satu sama lain, setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan serta  memerlukan bantuan orang lain.  Adapun yang menjadi dasar dalam etika adalah:
a)       Bersikap sopan dan ramah kepada siapa saja.
b)       Memberi perhatian kepada orang lain.
c)       Berusaha selalu menjaga perasaan orang lain.
d)      Bersikap ingin membantu.
e)       Memiliki rasa toleransi yang tinggi.
f)        Dapat menguasai diri, mengendalikan emosi dalam situasi apapun.

2.5.1.      Etika pergaulan dengan orang yang lebih Tua

“Sebagian tanda memuliakan Allah adalah menghormati orang Islam yang telah putih rambutnya (tua).” (H.R Abu Daud)
“Tiada seorang Pemuda yang menghormati orang yang tua usianya, melainkan Allah akan menyediakan orang-orang yang akan hormati jika ia telahtua usianya.” (H.R Tirmidzi)
“ Tidak termasuk golongaku yang tidak menyayangi orang yang lebih (muda), dan tidak mengerti hak-hak orang yan lebih tua. Bukanlah termasuk golonganku orang yang menipu kami, seorang mukmin yang lain, seperti mencintai dirinya sendiri.” ( Tarbani dari Damrah)
Yang dimaksud lebih tua disini adalah para orang tua kita yaitu nenek, paman, bibi, dan orang lain yang lebih tua dati kita. Kita wajib menghormati mereka yakni orang tua yang telah memelihara, membesarkan,mendidik, dan membiayai hidup kita. Karena tidak sedikit pengorbanan yang mereka lakukan untuk membesarkan anak-anaknya.  Namun, tidak selayaknya kita mengabaikan apa yang diperintahkannya, serta kewajiban menghormatinya serta menuruti segala nasehat dan perhatiannya. Oleh karena itu tentulah kita harus memilii etika yang baik kepada mereka yakni dengan menghormati, serta bersikap sopan dan santun.
Agama Islam juga mengajarkan agar kita selalu berlaku hormat dan sopan kepada semua orang yang lebih tua, dari merekalah kita memperoleh pengalaman, memperoleh ilmu untuk bekal masa yang akan datang. Sebagaimana janji Rasulullah pula seseorang yang menghormati orang yang lebih tua darinya maka kelak dia juga akan dihormati pada masa tuanya.
Adapun etika berbicara dengan orang yang lebih tua yakni: berbicara bersopan dan santun, memperhatikan ia ketika sedang berbicara, tidak boleh sombong dalam berbicara minsal berkedik pinggang hal tersebut dinamakan kurang adat. Contoh lain saat bertanya kepada orang lain yakni sedang dalam kereta atau mobil, maka jika hendak bertanya maka turunlah dari kereta atau mobil yang dikendarai karena hal tersebut merupakan upaya yang kita lakukan menghargai orang yang ditanyai dan terlihat lebih sopan.

2.5.2.       Etika Pergaulan dengan orang yang sebaya
“ Orang mukmin terhadap mukmin lainnya, tak ubahnya bagaikan suatu bangunan yang bagian-bagiannya (satu sama lain kuat) kuat menguatakan.” (HR. Muslim)
“ Barang siapa yang berjalan dalam upaya memenuhi kebutuhan saudaranya, dan usaa ini berhasil adalah lebih baiak dari pada beri’tikaf sepuluh tahun.” (HR. Baihaqi)
Sebaya disini berati sama usianya, maka dari itu pergaulan sebaya sangatlah peting karena hal tersebut selalu dilakukan hampir setiap hari dilingkungan masyarakat, oleh sebab itu diperlukan etika yang baik dalam pergaulan sosial antara sebaya ini.

2.5.3.       Etika Pergaulan Dengan Sesama Muslim
“ Hai orang-orang yang beriman jika datang kepadamu orang fasik membawa satu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpa suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kami menyesal atas perbuatanmu.”
( QS. Al-Hujarat:6)
Maksud dari ayat diatas yakni pergaulan antara sesama muslim berkaitan dengan peraturan-peraturan tentang pergaulan umat islam antar satu golongan dengan golongan yang lain.

2.5.4.      Etika Pergaulan Dengan Yang Berbeda Agama
“ Hai manusia, sesunggunhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikanmu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa supaya kamu saling mengenal...”(QS. Al-Hujarat: 13)
Agama Islam menganjurkan kepada kita untuk bergaul dengan yang berbeda agama. Sebab pada dasarnya mereka juga merupakan makhluk ciptaan Tuhan hanya saja berbeda keyakinan. 

2.5.5.        Etika makan bersama
“ Hai manusia makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat dibumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, karena setan itu adalah musuh yang nyata bagimu (QS. Al-Baqarah: 168)
Adapun yang menjadi etika dalam makan bersama antara lain adalah:
a)      Berpakaian sopan. Kebiasaan makan tanpa berbaju, itu hanya berlaku bila anda makan sendirian dalam kamar sendiri. Tetapi bila anda diundang kedalam suatu tempat untuk makan bersama maka hendaklah memakai pakaian yang sopan.
b)      Bunyi mulut, kebiasaan mengecap makanan atau mengunyah dengan mulut berbunyi (seperti kuda makan) ini dala salah satu etika yang harus di ubah apabila sedang makan bersama.
c)      Gerak dan sikap. Etika juga membatasi gerak dan sikap ketika makan bersama.
d)     Cungkil gigi. Ini juga merupakan etika yang harus diperhatikan,  banyak masyarakat dalam makan bersama setelah selesai makan mencungkil gigi yang membuat orang lain jijik.
e)      Bangkit bersama. Apabila dalam jamuan makan bersama, bila telah selesai makan hendaklah menunggu yang lain selesai jangan bangkit terlebih dahulu, karena bila terjadi hal tersebut, menyebabkan adanya pandangan kurangnya kesopanan pada pada diri kita.

2.5.6.      Etika Pergaulan Dalam Menerima Tamu
Menerima tamu berarti menerima hadirnya orang datang dari luar. Adapun etika yang perlu diperhatikan dalam hal menerima tamu adalah:
a)      Berpakaian yang sopan saat menerima tamu
b)      Menghormati tamu
c)      Berbicara yang lemah lembut dan sopan terhadap tamu, dan lain sebagainya.



BAB III
PENUTUP

3.1.      Kesimpulan
Etika merupakan sesuatu yang mempelajari perilaku manusia yang bersifat baik dan buruk. Etika juga berbicara mangenai nilai dan norma moral yang menentukan perilaku manusia dalam hidupnya, system nilai ini dapat berupa ajaran, nasehat, perintah, dan sesuatu yang diwariskan secara turun temurun melalui agama, kebudayaan, dan bagaimana manusia harus hidup secara baik agar menjadi manusia yang baik, yakni dalam pergaulan dan lain sebagainya.
Karena dalam etika mengajarkan agar saling menghormati dalam bergaul yakni kepada orang tua sendiri, orang tua yang lain. Etika juga mengajarkan sikap sopan santun dalam bergaul sesama manusia karena hal tersebut akan membuat hidup tentram dan nyaman.
Etika adalah sebuah refleksi kritis dan rasional mengenai nilai dan norma moral yang menentukan dan terwujud dalam sikap dan pola perilaku hidup manusia, baik secara pribadi maupun kelompok.
Dalam kaitannya dengan nilai dan norma, kita menemukan 2 macam etika, yaitu etika deskriptif dan etika normatif. Adapun sistematika etika juga di bagi menjadi 2 kategori, yaitu etika umum dan etika khusus.

3.2.     Saran
Etika adalah sesuatu yang diperlukan dalam kehidupan di samping agama. Oleh karena itu diharapkan setelah mempelajari etika dapat membentuk etika yang baik dalam diri seseorang baik itu selaku mahasiswa dan masyarakat.
Dalam pergaulan sehari-hari di kita dituntut memiliki etika yang baik agar dapat hidup berdampingan secara damai dan harmonis dengan orang lain yang memiliki adat, budaya, suku, ras, agama dan keyakinan yang berbeda dengan kita.


DAFTAR PUSTAKA


Al-Kamil, Al Qur’an Terjemahan Darus Sunnah
Salam Baharuddin, 1997 ETIKA SOSIAL Asas Moral Dalam Kehidupan Manusia. PT RINEKA CIPTA, Jakarta
Robert C. Solomon, 1984. Etika: Suatu Pengantar. Jakarta: Erlangga
affand.abatasa.co.id/post/detail/254.html (diambil Sabtu, 30-03-2014)
http://sibage.blogspot.co.id/2013/04/makalah-tentang-etika.html



1 komentar:

  1. Harrah's Cherokee Casino Resort - Mapyro
    Find your way around 양산 출장마사지 the casino, find where everything is located with the 목포 출장마사지 cheapest and quickest ways to get from 삼척 출장샵 Harrah's Cherokee Casino 과천 출장샵 Resort to 상주 출장샵

    BalasHapus